Sunday, 1 June 2014

Opinion - Bila Orang Amerika Belajar ke Iran

Anda tentu sudah tahu apa kata media-media massa Amerika tentang Iran: negeri terbelakang, totaliter, tidak demokratis, dihuni orang-orang yang kejam dan lain sebagainya. Bagi orang-orang yang telah belajar tentang Iran dan pernah berkunjung ke Iran hal tersebut tentu sangat bertolak belakang. Iran adalah negara Islam paling maju, paling makmur, juga paling demokratis. Bandingkan dengan negara-negara Arab kesayangan Amerika seperti Saudi Arabia (negerinya keluarga Saud yang tidak jelas asal-usulnya), Mesir (yang menuruti perintah Isrel untuk turut serta memblokade jalur Gaza) dan Yordania (yang telah menghadiahkan Jerussalem kepada Israel), Anda akan menemukan perbedaan yang sangat kontras. Hal ini pun disadari oleh masyarakat delta Mississippi Amerika Serikat yang belajar bagaimana mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat kepada Iran.

Sebelum revolusi Iran tahun 1979 dan Iran masih dikuasi oleh regim boneka Amerika, kota-kota Amerika di delta sungai Mississippi relatif lebih baik dalam pelayanan kesehatan masyarakat dibandingkan kota-kota di Iran. Namun setelah tahun 1980, kondisinya berbalik. Pemerintah Iran mampu menyediakan rumah-rumah sakit dan klinik-klinik hingga ke pelosok negeri. Pusat pelayanan kesehatan semacam posyandu yang berfungsi permanen didirikan di setiap kelompok masyarakat. Konsern utama sistem pelayanan kesehatan masyarakat di Iran adalah pencegahan penyakit, bukan pengobatan.

Dengan sistem pelayaan kesehatan yang baru itulah Iran mencapai kemajuan yang mencengangkan yang diperlihatkan oleh turunnya angka kematian bayi dari 200 per 1.000 kelahiran menjadi 26 per 1.000 kelahiran sementara angka kematian bayi di delta Mississippi 10 x lipat angka kematian bayi di Iran. Hal itulah yang mendorong sekelompok pekerja sukarela Amerika bulan ini terbang ke Iran untuk belajar tentang penerapan sistem kesehatan masyarakat yang baik untuk diterapkan di daerah delta Mississippi.

"Kenapa tidak mencobanya (cara Iran)?" kata Dr. Aaron Shirley yang telah bekerja di delta Mississippi selama 40 tahun dan kini mengepalai upaya untuk mengakhiri sistem layanan kesehatan yang buruk di wilayah ini dimana hampir 3 dari 10 bayi yang lahir harus meninggal dunia dan masyarakatnya dihinggapi berbagai penyakit massal seperti diabetes, sakit jantung dan hanya sedikit dari masyarakatnya yang memiliki asuransi kesehatan, kondisi yang sangat jauh berbeda dengan "impian Amerika" yang ditayangkan di film-film dan "Voice of America".

Sebuah proyek kerjasama kini tengah dijalankan yang melibatkan Jackson State University (Amerika), Shiraz University of Medical Sciences (Iran), perusahaan konsultan kesehatan Oxford International Development Group, serta Jackson Medical Mall, dengan tujuan menyediakan layanan kesehatan masyarakat yang baik di kota-kota delta Mississippi. Dr. Aaron Shirley adalah ketua dari proyek ini. Lima orang dokter dari Iran telah mengikuti sebuah konperensi kesehatan yang diadakan akhir tahun lalu dan mengunjungi kasawan-kawasan delta Mississippi mengalami masalah kesehatan masyarakat yang akut.

"Kami berharap proyek ini dapat menciptakan saling percaya antara kedua negara," kata Mohammed Shahbazi, seorang profesor kelahiran Iran yang mengajar di Jackson State University.
Yang masih menjadi kendala adalah bagaimana mendapatkan dana bagi proyek ini. Dr. Shirley telah terbang ke Washington dan melobi beberapa politisi untuk mendapatkan bantuan dana yang diperkirakan sebesar $250,000 per-tahun. Namun hal itu membutuhkan upaya yang kuat karena bekerjasama dengan sebuah negara seperti Iran sama sekali kurang menarik perhatian para politisi di ibukota.

"We're hoping to get somebody's attention eventually. In the meantime, everything is being scrounged," kata Shirley.

Dalam proyek ini pasien yang dirawat dibebaskan dari biaya, namun bagi para pekerja kesehatan masih belum jelas apakah akan mendapatkan gaji atau tidak mengingat kurangnya dana. Dengan proyek ini warga yang sakit bisa mendapatkan layanan kesehatan dan pengobatan di posyandu yang disediakan dimana para pekerja kesehatan yang telah dilatih (bukan dokter) memberikan layanannya kesehatan dasar seperti diagnostik awal dan tes tekanan darah sebelum diputuskan apakah pasien harus mendapatkan layanan lebih serius di klinik atau rumah sakit.

James Miller, managing director Oxford International Development Group yang terlibat dalam proyek, berharap UU kesehatan yang baru disahkan presiden Obama bisa mengakomodasi proyek ini. UU baru tersebut telah mengamanatkan dana program pencegahan penyakit senilai $15 miliar selama 10 tahun. Meski demikian ia tidak terlalu optimis mengingat proyek yang dijalankannya itu tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah pusat. "Mereka mendanai program-program seperti edukasi penyakit diabetis dan bukan implementasi sistem kesehatan yang kini tengah usahakan dengan program ini," tambah Miller.

Jubir departemen kesehatan AS Tara Broido menolak berkomentar tentang program seperti yang tengah diupayakan Dr. Shirley namun berargumen bahwa program yang dilakukan pemerintah bersama Delta Health Alliance senilai $110 juta telah menunjukkan hasil positif, termasuk pendirian klinik-klinik gratis di Greenville. Namun Miller dan Shirley menolaknya dengan mengatakan bahwa program mereka bisa menghemat dana jutaan dolar dana masyarakat tidak perlu menjalani perawatan yang tidak perlu disamping dampak tidak langsung dari pencegahan penyakit.

Pos-posyandu juga bisa mengurangi tingkat pengobatan yang berulang, tambah Shirley. Pasien seringkali mengabaikan perawatan jalan setelah meninggalkan rumah sakit. Dengan adanya posyandu yang dekat dengan pemukiman, pasien dapat meneruskan pengobatannya tanpa harus menjalani perawatan di rumah sakit. Namun terlebih lagi posyandu yang beroperasi secara reguler itu mampu menekan angka kematian karena penyakit ataupun kecelakaan.

Sebanyak 11 county (setingkat kecamatan) di daerah delta Mississippi, terutama di kawasan yang dominan dihuni oleh warga kulit hitam, tingkat kematian bayi mencapai 281 per 1.000 kelahiran. Sebanyak 13% dari penduduk kawasan delta menderita penyakit diabetes. Di Leflore County sebanyak 42,4% dari 35.000 penduduknya dikategorikan miskin. Sebanyak 33% penduduk menderita kegemukan dan 11 persen menderita diabetes. Selain itu terdapat 9% populasi yang menderita penyakit cardiovascular disease

News - How Colonialism Benefits from Boko Haram’s Mass Kidnapping of Girls

The mass kidnapping of Nigerian schoolgirls by Boko Haram is only the tip of on iceberg of slavery in Africa. Slavery and trafficking is more often than not tied to conflicts in which core NATO member states and terrorist organizations with ties to their intelligence services play central roles. Ultimately, conflict, slavery and trafficking, as well as prostitution are tied to issues about sovereignty. 
Turkey_MIT_THY_NIGERIA_SMUGGLING_WEAPONS_AD 
Boko Haram began its insurgency five years ago. Experts stress that Boko Haram is covertly funded and armed by intelligence services of core NATO member states. The function of the covert support for Boko Haram is the destabilization of a country to justify a NATO military presence.
One of the most recent incidents that supports this assessment comes from a clandestine recording of a phone conversation between Mustafa Varank, who has close ties to Tukey’s AKP government and Turkey’s intelligence service MIT and a Turkish Airlines official, in which the two are discussing details about arms smuggling to Nigeria.
Emma Christopher, an expert on slavery and human trafficking, stressed that tens of thousands of people are bought and sold in Nigeria every year. The majority of them are children. Christopher is referring to the International Labour Organization which estimated that in 2003, as many as six million Nigerian children had been trafficked at some time in their lives.
Nigeria Insurgency 
Core NATO Members Engineered Conflict Drives Slave and Trafficking Business.

This prompts the questions, why the sudden outcry about the kidnapped Nigerian girls throughout western governments? Why the sudden headlines in western corporate media?
In October 2012, the Irish analyst Finian Cunningham pointed out Boko Haram’s role as an instrument of western modo-colonialism, writing:
On the surface, a militant group known as Boko Haram appears to be the protagonist. But some believe that powerful Western interests are using the violence to consolidate foreign control over Nigeria’s vast oil wealth.
Cunningham stressed that some Nigerian analysts believe that the organization is being used by powerful external forces as a conduit for destabilizing Nigeria. A “believe” which since then has been substantiated. He quoted political analyst Olufemi Ijebuode saying:
“The upshot of this latest massacre is to destabilize the state of Nigeria by sowing sectarian divisions among the population. The killers may have been Boko Haram operatives, but Boko Haram is a proxy organization working on behalf of foreign powers.” 
Note, that the rapid growth of the Nigerian economy and the country’s oil export coincides with the increased incidence of terrorist attacks and the increased presence of US AFRICOM troops.
Family of slaves in modern Mauritania.
Family of slaves in modern Mauritania.

Cultural Factors Play a Minuscule Role. A relatively small part of African slavery and human trafficking problems are related to cultural factors.

Mauritania is one of the countries where slavery is a remainder of the age-old Arab slave trade and the colonization of the Maghreb by Arabs. Slavery was banned in Mauritania in 1980.

The remaining problems in Mauritania, as tragic as they are, are minuscule in comparison with the conflict related slavery and trafficking. Moreover, most slaves in Mauritania are living within family units, which is in stark contrast to the destiny of the vast majority of those who are enslaved or trafficked in connection with conflicts.

Slave Trade in Africa and Middle East worth 1.6 Billion Annually. In an article about slavery in Africa, Emma Christopher stressed that the NGO Free the Slaves estimates that 1.6 billion dollar in profit derives from African and Middle Eastern slavery per year. Christopher adds, that his amount is greater than the combined GDP of eight African countries in 2013.
Laurent Gbagbo - An African leader with Visions of Independence
Laurent Gbagbo – An African leader with Visions of Independence
Christopher stressed that Around 40% of the world’s chocolate comes from cocoa produced in the Ivory Coast and that children from across West Africa are trafficked to work there: there is no guarantee that those children have not grown the chocolate you enjoy.
What Christopher doesn’t address in her article is that core NATO member France engineered the 2010 coup d’état against Ivorian President Laurent Gbagbo who was about to end the French usurpation of the country and with it the usurpation of the other UMEOA member states.
Neither the conflict in Ivory Coast and the continuation of the slavery in and around the country can be understood without understanding the system of usurpation France installed in its former colonies and UMEOA member states.
Franc_CFAThe system was described in great detail, in the article “French Africa Policy Damages African and European Economies”. The problem can be reduced to the following:
  • France has installed commissars in the UMEOA region’s three central banks. The commissars have veto right and can, in fact, block any financial, monetary or economic decisions.
  • France is printing the regions money, the Franc CFA in Chemaliers, France.
  • UMEOA member states “must” deposit 65 % of their foreign currency reserves in the French National Bank against 0 (ZERO) % interest.
  • France earns about 3 % interest on the deposits and “lends” the profit back to individual UMEOA member states against 5 – 6 % or more as “development aid”.
  • UMEOA member states “must” deposit “all” of their gold reserves in France. No audit has taken place for decades.
  • Any head of state who wants to get his country out of the French racket is faced with the prospect of assassination, imprisonment or a coup d’état. Laurent Gbagbo has since 2010 been held in a prison of the International Criminal Court.
Soldier CARChristopher also, correctly points out that seven types of slavery are prevalent in eastern Congo. Men and boys are enslaved in the mines of the region, whose products we all have in our mobile phones and other electronics.
A covert investigation in 2013 by Free the Slaves found that more than 90% of mine-workers were enslaved, the majority through debt bondage or having been kidnapped by armed groups. Nearby, they found women and girls who had been trafficked to work as prostitutes to serve the miners. (emphasis added)
Image: UNMISS
The Sudanese parliament reported in 2008 that at least 35.000 people remained enslaved, the majority of them being Christians from the South held by Islamic families in the North.
The problem has received little international attention, although it has been noticed when US and Qatari intelligence services began targeting the country for civil war and its separation into Sudan and South Sudan. That development came when depletion of oil resources made the exploration of Sudanese resources attractive.
Kidnapped Tunisian girls trafficked through Turkey to work as sex slaves for terrorists.
Kidnapped Tunisian girls trafficked through Turkey to work as sex slaves for terrorists.
NATO Engineered Conflict and Sex Slavery. October 2013 the Tunisian Interior Minister Lofti Ben Jeddou complained that Tunisian girls were being trafficked trough Turkey. Young Tunisian girls are being lured into traps or simply kidnapped and trafficked to Syria via Turkey.
Ben Joddou announced to Tunisia’s National Assembly, that Tunisian girls are forced to satisfy the sexual needs of terrorists in Syria under the euphemism sexual jihad.
Ben Jeddou stressed, that Turkey has become a bridgehead for sex jihad and declared that the trafficked Tunisian girls are forced into having sex with 20 – 30, in some cases 100 of the “holy warrirors”. Ben Jeddou stressed, that most of them return pregnant.
Besides the psychological trauma the young Tunisian girls suffer, the large number of children which will be born due to the forced sexual service will create a sociological time bomb in Tunisia. Another problem, which remains largely unaddressed, is that many of the girls who return, have been infected with sexually transmittable diseases, including HIV. Yet others again never return because life has become a chap commodity since the country was targeted for holy war.
It is worth noting that these holy warriors, for the greatest part, are US-UK-Turkish-Saudi Arabia and Qatar-funded mercenaries who are fighting a war on behalf of core NATO member states, CGG member states and Israel. For those who have not noticed the fact yet, a statement of the former French Foreign Minister, Roland Dumas is a good starting point to understand the situation in Syria.
Dumas, photo courtesy of SANADuring an appearance on the French TV channel LPC, Dumas made a short remark, saying that top British officials were preparing the subversion of Syria with the help of “rebels” two years before the first protests in 2011, and that he was asked, whether he wanted to participate. During the TV appearance on LPC, in June, Dumas said:
“I am going to tell you something. I was in England two years before the violence in Syria on other business. I met with top British officials, who confessed to me, that they were preparing something in Syria. … This was in Britain not in America. Britain was organizing an invasion of rebels into Syria. They even asked me, although I was no longer Minister of Foreign Affairs, if I would like to participate. Naturally, I refused, I said I am French, that does not interest me … This does not make sense, it is time to fix all this again. … there are some sides who have the desire to destroy Arab states, like what happened to Iraq and Libya before, particularly given Syria´s special relations with Russia. … that if an agreement is not reached, then Israel will attack and destroy the governments that stand against Israel”.
Kidnapping of girls and trafficking of girls to Syria has also been reported from Mali, invaded by France and NATO members in 2013 as well as from Egypt and Libya invaded by NATO and NATO-led Al-Qaeda “rebels” in 2011. Since 2014 the kidnapping of girls has begun spreading into Europe, with the “disappearance” of two Austrian – Bosnian girls being the best known incident.
Migrant workers in Qatar.
Migrant workers in Qatar.
Employment in Slave-like Conditions. One of the greatest Arab importers of  migrant workers who are working under slavery-like conditions, is Qatar.
About 88 % of all workers in Qatar are migrant workers. Many of them are kept in appalling conditions. Violence and abuse, including sexual abuse is rampant. Many female migrant workers are literally being held as sex slaves. Similar conditions can be found in Saudi Arabia, the UAE and Bahrain.
An Entirely Different Problem – Trafficking for the Western Sex Industry. Trafficked African sex workers can be found in as good as every red-light district in every European capital as well as in most larger provincial cities. African girls are also being trafficked to Asia.
Sex Slaves held in Copenhagen, Denmark
Sex Slaves held in Copenhagen, Denmark
Many of the girls are lured into traps with promises about a cleaning job, au-pair jobs and other. Once they arrive, the standard procedure is that their passports are taken away and that they are “broken in”.
In an interview with several trafficked African prostitutes in a provincial town in Denmark, one of the girls told the author that she was hospitalized with severe blood loss after having been forced to service numerous “clients” one day.
Asked how she managed at the hospital she reported that a health insurance card was “lent” to her by her pimp. When she was asked why she didn’t use the occasion to escape, she said that she was scared. Her pimp knows who her family is, and they will kill someone if I run away, she said.
The standard price for these trafficked African girls in Denmark is between 170 and 200 dollars per hour. A trafficked girl can expect to earn about 20 to 30 of the 200 dollars. From that income, they are often forced to pay 50 – 100 dollars per day for accommodation and other “services”.
Trafficked African girls in similar situations can be found in their thousands across Europe. The vast majority of them are from the former French colonies, now UMEOA member states or one of the countries of “special interest” for other core NATO member states.
A Question of Sovereignty. Ultimately, what one is dealing with is a question of sovereignty. That is, national sovereignty as well as individual sovereignty.
The girls kidnapped by Boko Haram have been deprived of their sovereignty over themselves and their own bodies. Boko Haram is used by core NATO member states to deprive Nigeria of its sovereignty by subverting the country, to place AFRICOM troops, to “secure” the country’s resources for the USA and its western allies.
The slave or migrant workers in Ivory Coast and its cocoa plantations have been deprived of sovereignty over themselves and their bodies. They have been reduced to an instrument for a modo-colonialist system of usurpation. Ivory Coast and the other 14 UMEOA member states don’t have any sovereignty. France can and does dictate their fiscal, monetary and economic policies and changes regimes which threaten to break free from the racket.
The trafficked girl in the Danish provincial city does not have sovereignty over herself or her body. The thousands of girls in similar situations in Europe have been deprived of their sovereignty.
Double Moral in Western Prostitution Laws – The Ultimate Betrayal. Nobody should live in slavery or work under slavery-like conditions. Nobody, neither woman or man should be kidnapped, trafficked or otherwise forced into prostitution.
Brothel raiders. West Midlands Police
Brothel raiders. West Midlands Police
That said, some women and men alike are making the conscious decision to escape sweatshops in the Maghreb, cocoa plantations in Ivory Coast, gold mines in Congo, uranium mines in Mali, or minimum wage, zero hour contract jobs at a McDonald in London.. etc..
Some people make the sovereign decision to say unequivocally “no” to working as industrial slaves in a rigged game. Some of these people recognize that all that the system in which they are entrapped leaves them with is sovereignty over themselves, their own body and their entrepreneurial spirit.
Some of these people make a sovereign decision to sell sexual services under conditions which they themselves determine and agree to. People who empower themselves by providing sexual services to paying clients. Some of them travel from Africa or Asia to Europe to work and provide for their family and to save money to build a life when they return.
If there was a political will to crack down on trafficking there would be very few trafficked women in western countries. Instead, we see increasingly restrictive prostitution laws which target those who are working as free entrepreneurs as well as their clients.
Restrictive prostitution laws which prevent these people from empowering themselves with the only resource this system, in many cases, has left them with. These laws drive them into the hands of exactly those criminals who will abuse them -  this is, the ultimate betrayal of their sovereignty – this is, the ultimate enslavement that denies even, that one uses one’s own body as a sovereign.
So why all that sudden interest about those girls who were kidnapped by Boko Haram, which is clandestinely financed, fueled and instrumentalized by modo-colonialist powers?

News - Saudi King Abdullah Starves Daughters for Women’s Rights Advocacy

King Abdullah of Saudi Arabia has scaled up his terror against two of his daughters, princesses Sahar and Jawaher, who have been kept in house-arrest for years for lobbying for human and women’s rights, by denying them food and water.
Saudi Arabia_princesses
What else would one expect in a country that publicly beheaded a woman on sorcery charges in 2011 and is the world’s leading sponsor of Al-Qaeda terrorism.
The two daughters of his divorced wife have been held detained for about 13 years since they fell out of his majesties favor for speaking out against the ill-treatment of women in the Gulf Kingdom.

The ill-treatment of Sahar and Jawaher is, according to some sources also caused by a bitter divorce due to the fact that the princesses’ mother could not deliver a son. If true, it is just one more sign of the backwardness of the medieval Saudi – Wahhabi culture and the head of the royal family who yet has to keep up with the fact that the gender of children usually depends on the father.

Princesses  Sahar and Jawaher managed to contact the Russian TV Channel RT via Skype and reported that they are being kept against their will in two mansions, inside the royal palace in Jeddah.

The two are kept there along with two other sisters, Maha and Hala, they said, adding that they had been deprived of food for several days and only had very little access to water. Talking to RT via Skype, they said:
“It’s a horrible situation, its forced starvation, basically. They are confining us, depriving us of food and water, freedom and rights. We are struggling, we are surviving, we are resisting, we are trying our best to stay alive”.
Knowing that they were taking a risk by speaking out in public, they asked how it would be possible to continue living like this, adding that they had to take the risk and to speak out. Demanding accountability for the predicament they are in, they said:
“The king and his sons have to answer these questions: What are we charged with? What exactly is our crime? What is the crime of the 99 percent of women in this country who are basically suffering under male guardianship? A male guardian can do whatever he wants; cut off everything and she is left with nothing. … We are making these statements right now (to) gain our freedoms”.
Their mother, Alanoud Al-Fayez, has made several futile attempts to appeal for help from political leaders. The fact that the U.S. Administration is turning a blind eye. however, is hardly surprising. There is no geopolitical benefit to be harvested from advocating the two girls rights, as there is with from the U.S. sudden interest in kidnapped Nigerian girls which resulted in an increased U.S. military footprint in the oil-rich African nation.
The director of the Institute for Gulf Affairs, Ali Al-Ahmed, told RT that he believes the grave human rights situation in the kingdom is compounded by a political strategy from the outside, whose purpose is to keep any negative press at bay, and is a force to either change things for the better or keep them as they are.

“This is the nature of the Saudi monarchy, who are oppressing the people in their country. But now it’s very clear that they’re oppressing their own female members. The king who is portrayed in the international media – in the Western media – as a reformer, is oppressing his own daughters; healthy adult women, who have been held for ۱۳ years…they’re being starved deliberately,” he said.

Opinion - Indonesia Dalam Eksploitasi Amerika


“Indonesia adalah ladang kekayaan yang dicuri secara konsisten oleh Amerika, dan ironisnya, yang dicuri tidak berdaya.”
Sang Penguasa Dunia Baru atau New Rulers of The World (Tahun 2002) merupakan film dokumenter karya John Pilgers, seorang jurnalis terkemuka dunia berkebangsaan Australia yang bekerja di Inggris. Dari berbagai pengalaman dan menjadi saksi hidup pada berbagai peristiwa yang ia liput, telah membangkitkan semangat dasar nurani John Pilgers untuk membongkar segala ketidakadilan terutama yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya (termasuk Inggris dan Australia tempat dimana ia lahir dan tinggal). Film ini bercerita tentang globalisasi yang didesain agar menguntungkan negara-negara maju dengan tema utama adalah buruh yang diperbudak serta utang luar negeri. Pilgers menceritakan bahwa inilah era penguasa baru dunia (the new rulers of the world), khususnya pengaruh bagi sebuah negara: Indonesia.
Sementara itu, mengenai buruh, Pilgers memaparkan kondisi buruh pabrik di Indonesia yang mengenaskan yang bekerja di perusahaan multinasional (MNC = multinational company) seperti Nike, Adidas, GAP, sedangkan di sisi lain perusahaan MNC dan distributor di negara-negara maju meraup keuntungan yang sangat besar. Untuk kasus utang luar negeri, John Pilgers memaparkan bagaimana utang luar negeri telah menjerat Indonesia menjadi negara penghutang (idealnya sepanjang masa) sejak rezim Soeharto. Untuk hal itu, Pilgers melakukan wawancara langsung dengan petinggi IMF dan World Bank (WB). Ia mempertanyakan alasan lembaga keuangan tersebut tetap memberikan punjaman kepada rezim yang jelas korup dan dengan mekanisme yang tidak transparan. Yang jelas dari kebijakan tersebut, World Bank dan negara-negara kreditor mengambil keuntungan yang besar dari mekanisme yang tidak transparan dan cacat hukum tersebut melalui proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan multinasional dari negara-negara asal masing-maisng. Jadi, meskipun World Bank dan negara kreditor memberi pinjaman 100%, namun sebenarnya sebagian besar uang tersebut digunakan untuk membuka lapangan pekerja negara kreditor dan hanya sekitar separuh uang pinjaman tersebut benar-benar masuk ke negara miskin tersebut.
Pada pembukaan film dokumenter tersebut, John Pilgers menyajikan sebuah lagu mengenai globalisasi. Inikah makna globalisasi sesungguhnya?Itulah fakta yang terjadi di Indonesia. Dan pada awal tahun 2000-an, terjadi gerakan jutaan manusia menentang globalisasi di berbagai penjuru dunia. Globalisasi yang didengung-dengungkan oleh Amerika dan negara kapitalis liberal bahwa akan membawa kemakmuran bagi umat manusia ternyata mengakibatkan jurang pemisah yang begitu besar antara si kaya dan si miskin.
Dan inilah fakta-fakta tersembunyi globalisasi:
Sekitar 10% penduduk dunia menikmati dan memiliki 90% kekayaan dunia, sedangkan sisa 90% penduduk dunia harus merebut 10% uang untuk menghidupi keluarganya.
Total kekayaan sekelompok kecil orang yang berkuasa ternyata lebih besar dari total kekayaan seluruh penduduk benua Afrika.
Seperempat (1/4) kegiatan ekonomi dunia dapat dikuasai hanya dengan 200 perusahaan MNC.
Efek Globalisasi di Indonesia
Banyak pembeli yang tidak menyadari bahwa di jalan-jalan besar atau di supermarket, berbagai produk dengan merek terkenal, mulai sepatu olahraga, kaos hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara yang sangat miskin dengan upah buruh yang sangat rendah, nyaris seperti budak. Fakta: Untuk marketing produk Nike, perusahaan membayar pegolf Tiger Woods lebih besar dibandingkan dengan upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di Indonesia. Sehingga kita perlu tanyakan kembali, inikah globalisasi yang menjadi harapan masa depan dunia?
Ataukah globalisasi hanyalah kedok penguasa saat ini yang menggunakan cara-cara lama yang dulunya dilakukan raja-raja dan sekarang diteruskan oleh (perusahaan) MNC dengan bantuan berbagai lembaga keuangan dunia dan pemeritah (Indonesia) sebagai penopangnya? Itulah penggalan awal sekitar 3 menit film dokumenter John Pilgers sebagai pengantar. Sisanya adalah isi yang sangat menarik kurang lebih 49 menit dengan uraian dan fakta yang mencengangkan. Dari buruk pabrik negar yang kaya dengan sumber daya alam melimpah yang terpaksa bekerja long-shift selama 36 jam di perusahaan rekanan MNC. Ditambah lingkungan kerja yang panas (hingga 40 derajat), dan harus berdiri selama-lama berjam-jam. Dimanakah hati penguasa? Inikah cara menarik investasi asing ala pemerintah dengan menjadikan pekerja sebagai budah dan memperkaya perusahaan MNC?

Lalu, bagaimana dengan utang luar negeri? Benarkah utang luar negeri yang diberikan dari lembaga dan negara asing kepada negara-negara yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia memang secara absolut memberikan kemakmuran bagi rakyatnya? Benarkah paradigma utang yang dikeluarkan oleh institusi Amerika seperti World Bank, IMF, CIA dan sebagainya membawa kesejahteraan dunia?

Jalan Soekarno di Maroko



Ketika melintasi jalan Mohammad V, tepat didepan bank Magrib, disamping pos Magrib ada palang yang tertuliskan Avenue Soukarno atau jalan Soekarno.


Bagi para mahasiswa, maupun orang Indonesia yang berkunjung ke Maroko palang itu merupakan kebanggaan tersendiri. Betapa tidak nama presiden pertama Indonesia diresmikan sebagai nama jalan yang ada di jantung ibu kota Maroko

Nama Soekarno diabadikan sebagai salah satu nama jalan sebagai penghormatan atas jasa Soekarno saat menggalang kekuatan negara–negara dunia ketiga dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, Jawa Barat.
Nama Jalan Soekarno sendiri diresmikan pada tahun 1960 oleh Raja Mohammed V (saat ini Raja Mohammed VI) dan dihadiri langsung oleh Soekarno yang saat itu sebagai Presiden RI. Sebelum berubah menjadi Rue Soukarno, nama jalannya adalah Al Rais Ahmed Soekarno.
Dukungan Indonesia mendorong Maroko aktif dalam Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung. Setahun setelah itu, tepatnya tanggal 2 Maret 1956, Maroko meraih kemerdekaannya. Hari itu juga hubungan diplomatik antara dua negara ini terjalin, yang ditandai dengan dibukanya Kantor Kedutaan Besar RI di Rabat.
Pada tanggal 2 Mei 1960 Presiden pertama Indonesia mengadakan kunjungan ke Maroko, sebagai bentuk dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Maroko dari jajahan Francis. Beliau mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko.
Presiden Soekarno dianggap tokoh yang berperan dalam kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, Indonesia merupakan Negara pertama yang mengakui kedaulatan Negara Maroko. Sebagai apresiasi dari raja Mohammad V, nama presiden Soekarno diabadikan sebagai nama jalan besar yang berada di jantung ibu kota ini.
Ketika raja Mohammad V memberikan tawaran kepada Ir Soekarno dengan berbagai macam hadiah sebagai ucapan rasa trimakasih, beliau menolaknya. 
Ir Soekarno hanya meminta agar rakyatnya boleh masuk ke Maroko seperti rumah sendiri. Hingga saat ini pemerintah Maroko memberikan On Arrival Visa kepada WNI yang datang ke Maroko
sehingga pemegang paspor Indonesia yang berkunjung ke maroko tidak membutuhkan visa untuk kunjungan ke Maroko sampai 90 hari
Maroko merupakan negeri berbasis Arab dengan peradaban style versi Eropa. Menurut Musthafa Abdul Rahman, potret itu adalah keberhasilan sistem monarki di Maroko yang telah menjadikan Islam dan modernitas berjalan seiring islam dan kemodernan berpadu harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Hal ini hampir sama dengan kondisi yang ada di Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbanyak di dunia, namun tetap berjalan seiring kemodernitasan Zaman.
 
Bahkan Wakil Menteri Luar Negeri Maroko, Latifa Akherbach, pernah menyampaikan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dapat dijadihkan contoh sebagai negara yang mampu memadukan antara nilai Islam, demokrasi dan modernisasi, sehingga Maroko menilai Indonesia merupakan negara penting untuk menjalin kerja sama dalam menghadapi tantangan dan krisis global.
Semoga akan ada lagi tokoh besar Indonesia yang namanya bisa sampai diabadikan karena jasanya bagi kemajuan bangsa-bangsa yang ada di dunia seperti Soekarno
KESIMPULAN: BANGSA MAROKO SAJA KAGUM DAN HORMAT KEPADA BUNG KARNO SEHINGGA NAMANYA DIABADIKAN SEBAGAI NAMA SEBUAH JALAN DI NEGARANYA MAKA KITA SEBAGAI BANGSA INDONESIA HARUS LEBIH KAGUM DAN HORMAT KEPADA BUNG KARNO MELEBIHI RASA KAGUM DAN HORMAT BANGSA MAROKO KEPADA BUNG KARNO 


Dalam Cahaya Dua Fatimah



Fatimah binti Asad bin Hasyim 
Nama lengkap ibunda Imam Ali ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Inilah yang menjadikan Imam Ali adalah keturunan Hasyim dari kedua sisi ayah dan ibu. Ia adalah istri Abu Thalib. Ia termasuk yang paling dini memeluk agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.
Beliau dilahirkan dalam rumah tangga yang merupakan pusat spiritualitas. Hasyim bin Manaf adalah pemimpin Quraisy dan penjaga Ka’bah, menikah dengan seorang gadis dari keluarganya sendiri yang melahirkan anaknya, Asad, yang adalah ayah dari Fatimah binti Asad. Keluarga Hashimi dalam suku Quraisy adalah keluarga yang terpandang dan sangat terkenal dalam kebajikan moral serta ketinggian akhlaq di antara suku-suku Arab saat itu. Kemurahan hati, kedermawanan, keberanian dan begitu banyak kebaikan lainnya yang sudah melekat sebagai karakteristik Bani-Hasyim. Pasangan suami istri Fatimah dan Abu Thalib dikaruniakan empat laki – laki dan dua perempuan (Thalib, Aqil, Ja’far, Ali, Fakhitah, Jumanah), Imam Ali adalah anak termuda. Dan Rasulullah sebagai anak angkat beliau.
Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW. mendapat risalah, seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali, bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.
Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit. Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang dialaminya. Sebagai seorang wanita yang saleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan tawafnya.
Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah mulas. Di saat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap: "Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu untuk dimudahkan kelahirannya".
Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra ke-empat dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya saja. Kejadian yang luar biasa ini segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondong-bondonglah mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad SAW. Bayi ini saudara misan beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke rumah Abu Thalib.
Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia besar yang dilimpahkan Allah SWT kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan walimah. Guna memeriahkan acara itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Quraisy diundang mengunjungi pesta itu sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali" berarti "luhur". Pada tahun 10 kenabian, Nabi mengalami tahun kesedihan – meninggalnya paman dan istri beliau -. Fatimah tampil sebagai pengganti keduanya, yang mendukung dan membantu dakwah Nabi.
Fatimah membela Rasulullah SAW dari tekanan kaum Kafir Quraisy, hingga akhirnya berhasil hijrah ke Madinah.  Ia pun turut berhijrah ke kota suci kedua bagi umat Muslim itu bersama kaum Muslimin lainnya. Bagi Fatimah binti Asad, Madinah merupakan kota yang penuh dengan kebahagiaan serta kemuliaan, seperti halnya Makkah.
Dedikasi dan pengorbanan Fatimah dalam membela agama Allah SWT sungguh sangat tak ternilai. Ia sungguh wanita yang agung. Rasulullah SAW begitu menghormati sosok Fatimah, bibi sekaligus besannya. Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan Ibnu Abi Ashim dari Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abu Thalib dikisahkan bawah ketika Fatimah wafat, Rasulullah SAW mengkafaninya dengan bajunya.
Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, kesedihan nampak dialami Nabi Saw. Nabi Muhammad SAW bersembahyang untuk jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi yang menyiapkan segala sesuatunya. Nabi Muhammad SAW turun sendiri ke liang lahat dan setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping jenazahnya.
Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah, kami tidak pernah melihat Anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!” "Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad SAW dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur."
Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
Fatimah az Zahra terlahir dari pasangan manusia paripurna, Nabi Muhammad SAW dan Khadijah, pada tahun kelima setelah kenabian. Besar harapan keduanya kelak menjadi anak yang baik. Salah satu dari manusia suci dan diberkahi yang paling utama dan yang memiliki kebesaran dan kesempurnaan yaitu Az-Zahra. Kedua orangtua ini pun dipenuhi perasaan bahagia dan gembira. Sebagai jawaban atas umat yang kala itu sangat membenci jika mempunyai anak perempuan, lahirnya Fatimah Az-Zahra telah membawa perubahan perilaku suku Quraisy terhadap anak perempuan mereka.
Kenapa Fatimah dinamakan Az-Zahra, dikarenakan Allah SWT telah menciptakannya dari cahaya keagungan-Nya. Ketika bersinar, ia menerangi langit  dan bumi dengan cahayanya menutup pandangan para malaikat, hingga para malaikat bertanya dan Allah menjawabnya “Ini adalah cahaya dari cahaya-Ku. Aku tempatkan ia dilangit-Ku dan aku ciptakan ia dari keagungan-Ku. Aku keluarkan dari sulbi seorang Nabi besar diantara para Nabi. Dari cahaya itu Aku keluarkan para Imam yang membimbing manusia sampai akhir zaman. Dan Aku jadikan mereka Khalifah-khalifah-Ku di bumi setelah terputusnya wahyu”. Pada masa kanak – kanak telah mengalami beberapa kejadian dan peristiwa pahit, sehingga meninggalkan pengaruh pada jiwanya yang halus.
Setelah kematian Ibunda Khadijah, Fatimah menggantikan posisinya sebagai pelayan ayahnya, tanggung jawab di dalam rumah jatuh kepada Fatimah, hingga Nabi menikah dengan Saudah, guna meringankan tugas Fatimah. Tetapi sulit bagi seorang yatim yang kehilangan Ibundanya melihat orang lain menggantikan posisi Ibunya, setiap kali bertambah perasaan kehilangan itu bertambah pula rasa cinta Nabi kepadanya. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, Nabi memerintahkan Imam Ali untuk menggantikannya di Mekkah dari tempat tidur Nabi, mengembalikan barang – barang orang yang dititipkan hingga memimpin hijrah gelombang kedua setelahnya.
Imam Ali membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasulullah terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali. Di dalam rombongan Imam Ali ini termasuk Sitti Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy ikut bergabung dalam rombongan.
Rombongan Imam Ali dalam perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam. Ketika itu Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Quraisy. Mengetahui hal itu, Imam Ali segera memperingatkan Abu Waqid supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik matahari. Imam Ali, sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Quraisy terhadap rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka.
Pertumpahan Darah Pertama Kali
Mendengar rombongan Imam Ali berangkat, orang-orang Quraisy sangat penasaran. Lebih-lebih karena rombongan Imam Ali berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di siang hari. Orang-orang Quraisy menganggap bahwa keberanian Imam Ali yang semacam itu sebagai tantangan dan hinaan terhadap mereka. Orang-orang Quraisy cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk mengejar Imam Ali dan rombongan.
Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup atau mati. Delapan orang Quraisy tiba di sebuah tempat bernama Dhajnan, berhasil mendekati rombongan Imam Ali. Setelah Imam Ali mengetahui datangnya pasukan berkuda Quraisy, beliau segera memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya. Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari punggung unta. Kemudian ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Quraisy dengan pedang terhunus. Rupanya Imam Ali hendak berbicara dengan mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.
Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali menghalangi usaha mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul Imam Ali dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman pedang Imam Ali telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua, sehingga pedang Imam Ali sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!" Gerombolan Quraisy mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali untuk menyarungkan kembali pedangnya. Imam Ali dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul saudaraku, putera pamanku, Rasulullah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!"
Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Quraisy itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini mencerminkan konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan kafir Quraisy.
Di Dhajnan, rombongan Imam Ali beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali. Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan harinya rombongan Imam Ali beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan.
Waktu itu Rasulullah bersama Abu Bakar sudah tiba dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan rombongan Imam Ali Kepada Abu Bakar, Rasulullah memberitahukan bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya sendiri datang. Selama dalam perjalanan itu Imam Ali tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kaki-telanjang menempuh jarak kurang lebih 450 km. Setelah itu tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasulullah menyambut kedatangan orang-orang yang disayangi dan orang – orang muslim lain dalam hijrah gelombang kedua itu dengan selamat. 
Sesampai di Madinah Nabi menikah dengan Ummu Salamah binti Umayyah dan menyerahkan segala urusan putrinya kepadanya. Ummu Salamah pun mendidik dan membimbingnya. Setelah dewasa Fatimah Az-Zahra melebihi wanita-wanita lain di masanya dalam hal kemuliaan dan keturunan dari Nabi dan Khadijah. Akhlaknya mewarisi Nabi dengan kecantikan dari Khadijah, serta jauh dari kemusyrikan. Sehingga banyak pembesar – pembesar Quraisy yang telah melamarnya ketika menginjak remaja, tetapi Rasulullah tidak pernah menyambut lamaran tersebut. Rasulullah sendiri telah menahan Fatimah dengan orang lain untuk memberikannya kepada Imam Ali, bahkan kepada dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab, karena Rasulullah telah diperintahkan oleh Allah SWT melalui Jibril untuk menikahkan dua cahaya.
Pernikahan Imam Ali dan Fatimah Az-Zahra
Ketika dewasa timbullah cinta didada Imam Ali, setelah didorong oleh Abu Bakar, memberanikan diri untuk menemui Rasulullah, dan menyatakan ingin menjadikan salah satu wanita penghuni surga Fatimah Az-Zahra, dengan mas kawin 400 dirham dari hasil menjual baju besi pemberian Nabi. Saat itu hanya tiga harta yang dimiliki Imam Ali, pedang, unta dan baju besi-. Rasul pun menerimanya dengan bersabda “ Hai Ali, sebelum aku menikahkan kamu dibumi, Allah SWT telah menikahkan kalian berdua dilangit”. Pernikahan ini bagi Imam Ali adalah sama ketika kedua orang tua beliau menikah, dikarenakan pasangan ini berasal dari kakek yang sama yaitu Abdul Mutholib, seperti halnya orangtua Imam Ali dari kakek yang sama yaitu Hasyim.
Pernikahan mereka dilaksanakan setelah Perang Badr, sekitar tahun kedua Hijriah, bulan Zulhijjah. Acara pernikahan berlangsung sederhana dan khidmat, saat itu usia ‘Ali diperkirakan 18 tahun, ada pula pendapat yang menyatakan usia ‘Ali saat itu 25 tahun, sementara usia Fatimah diperkirakan 14 atau 16 tahun. Nabi meletakkan tangan Fatimah di atas tangan ‘Ali dan bersabda, “Wahai ‘Ali, Fatimah adalah istri yang baik untukmu.” Kepada Fatimah, Nabi bersabda, “Wahai Fatimah, ‘Ali adalah suami yang baik untukmu.”
Pernikahan keduanya merupakan gambaran pernikahan yang Islami. Suami adalah seorang keturunan yang mulia , juga sebagai Panglima perang Rasulullah, sedangkan istri adalah wanita dengan kesempurnaan akhlak, kedudukan mulia dan keturunan manusia agung. Salah satu dari empat wanita surge, perkawinan yang sederhana tidak ada beban dan pemborosan. Rumah tangga ini adalah rumah tangga yang telah disucikan sehingga maksum dan mempunyai sifat-sifat akhlak yang utama dan sempurna, dikarenakan dari rumah tangga inilah kelak akan lahir keturunan – keturunan yang menjadi Imam. Dikarenakan keduanya pula berada dalam satu universitas wahyu.
Fatimah hidup dalam pribadi Muslim terbesar kedua setelah ayahandanya, panglima perang, pembantu dan penasihat khusus Rasul. Beliau senantiasa memberikan semangat kepada Imam Ali dan membantunya dalam mempersiapkan diri dari menghadapi peperangan satu ke peperangan yang lain. Tidak pernah membuat suaminya marah walau satu hari, beliau tahu bahwa Allah SWT tidak akan menerima perbuatan seorang istri yang membuat marah suaminya sampai suami kembali ridha.
Rumah tangga ini dikaruniakan lima orang anak (Hasan –kelak menjadi Imam kedua-, Husain –Imam ketiga-, Zainab, Ummu Kultsum, Muhsin – meninggal saat keguguran-). Jadi kedua orangtua ini bertanggung jawab mengawasi anak-anak dengan teliti, mempersiapkan masa depan mereka dengan baik, dan menjaga fitrah mereka agar tak bercampur dengan noda,  karena Allah SWT telah mensucikan mereka lewat doa Nabi (Ahlul Bait: Ali, Fatimah, Hasan, Husain).
Setelah wafatnya Nabi, Fatimah bangkit untuk membela suaminya dan berdiri dengan tegar di belakang pintu ketika pengepungan dirumahnya untuk menciduk Imam Ali, tidak melarikan diri setelah rumahnya diserang, Fatimah bertahan dengan segala kekuatan untuk membela Imam Ali. Jika menang maka akan dapat mencegah mereka mengambil kekhalifan dari yang berhak, dan jika mereka memukul, mematahkan rusuk dan membuatnya keguguran maka terbukalah kesalahan mereka dan seluruh alam akan mengerti secara nyata dampak dari penyimpangan.
 Ketika beberapa bulan setelah Rasulullah wafat, Fatimah mengalami penurunan kesehatan yang sangat drastis karena adanya konflik yang tajam tentang Khalifah sepeninggal Rasulullah. Ia dirawat oleh Asma’ dengan anak anak berada disisinya. Imam Ali menyebutkan saat – saat terakhir Fatimah sebelum meninggal, Fatimah berkata “ Wahai anak pamanku, engkau tidak pernah menemukanku berdusta dan berkhianat”. Imam Ali pun menjawab “Aku berlindung kepada Allah SWT, engkau lebih mengetahui tentang Allah SWT, lebih baik, lebih bertakwa, lebih takut kepada-Nya. Demi Allah SWT rasa ini seperti apa yang saya rasakan ketika aku kehilangan anak pamanku (Rasulullah). Sungguh kewafatanmu adalah kehilangan yang sangat besar.”
Fatimah wafat beberapa bulan setelah meninggalnya Rasulullah. Pada usia 27 tahun meninggalkan keempat anak mereka yang masih kecil. Sebelum kematiannya, Fatimah sempat berwasiat kepada Imam Ali untuk merahasiakan tempat pemakamannya kelak kepada siapapun. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun. Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia Ali As, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.
Inilah kedua wanita hebat yang bernama Fatimah yang menjadi cahaya dalam kehidupan Imam Ali.

Agama Bermahkota Akhlaq





Ini adalah sepenggal kisah tentang tasamuh dan iman yang dimahkotai dengan kasih-sayang kepada sesama.
“Derajat ini Allah berikan kepada Ali, karena ia  telah menghormati orang yang sudah tua renta meski beragama Nashrani”
Pada suatu ketika, Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan tergesa-gesa. Di tengah jalan ia bertemu dengan orang tua yang sedang berjalan di depannya dengan pelan dan berada di pinggir jalan. Imam Ali yang tergesa-gesa ingin shalat berjamaah tersebut tidak mendahului orang tua tersebut dan tetap berjalan di belakangnya. Imam Ali merasa ta’zhim (menghormati) orang tua tersebut karena umurnya yang sudah tua.  
Imam Ali tetap berjalan di belakang orang tua tersebut sampai dekat terbitnya matahari. Pada saat dekat masjid, orang tua tersbut tidak memasuki masjid. Imam Ali bertanya-tanya, mengapa orang tua tersebut tidak memasuki masjid. Akhirnya Imam Ali mengetahui bahwa orang tua tersebut adalah orang Nashrani. Setelah itu, Imam Ali langsung masuk ke dalam masjid dan melihat Rasulullah SAW masih dalam keadaan ruku’. Rasulullah memanjangkan ruku’ hampir sama dengan ukuran dua ruku’.
Maka pada saat selesai shalat, Imam Ali bertanya kepada Rasulullah. “Duhai Rasulullah, mengapa engkau memanjangkan ruku’ dalam shalat ini tidak seperti yang biasa engkau kerjakan?” Rasulullah menjawab: “Ketika aku dalam keadaan ruku’ dan membaca subhana rabbial ‘azimi wa bihamdih, aku ingin mengangkat kepalaku. Namun tiba-tiba malaikat Jibril datang dan meletakkan sayapnya di punggungku serta menahanku agar ruku’ lebih lama.
Ketika Jibril mengangkat sayapnya, aku angkat kepalaku dan berkata. “Mengapa engkau berbuat seperti ini wahai Jibril?”. Kemudian Jibril menjawab, “Ya Muhammad, sesungguhnya Ali berangkat tergesa-gesa untuk berjamaah, namun di tengah jalan ia bertemu orang Nashrani yang sudah tua. Dan Ali tidak mengetahui bahwasanya orang tua tersebut adalah orang Nashrani. Ali memuliakan dan menghormatinya karena orang tersebut sudah tua. Ali tidak mendahulinya dan menjaga haknya. Oleh karena itu, Allah memrintahkan kepadaku agar menahanmu pada saat ruku’ agar Ali sempat untuk shalat subuh berjamaah. Allah juga memerintahkan kepada malaikat Mikail AS untuk menahan matahari dengan sayapnya agar tidak terbit.
“Derajat ini Allah berikan kepada Ali, karena ia  telah menghormati orang yang sudah tua renta meski beragama Nashrani”.